Blog Image

Blog

Bahaya Deterjen terhadap Lingkungan dan Kesehatan

December 12, 2018
/
#Belajarzerowaste
Bahaya Deterjen terhadap Lingkungan dan Kesehatan image
Photo by rawpixel on Unsplash
Mencuci dan mandi merupakan penggunaan air terbesar di rumah tangga Indonesia. Selain isu boros air, isu lain yang perlu kita perhatikan adalah dampak penggunaan deterjen konvensional terhadap lingkungan(1). Rata-rata konsumsi penggunaan detergen tiap rumah tangga sebesar 50 gram/hari. Dalam setahun terdapat 720 ton detergen yang digunakan dan berakhir menjadi limbah cair (2)! Yuk, kita belajar apa dampak yang ditimbulkan dari penggunaan deterjen terhadap lingkungan. 

#1 Mengandung Senyawa Turunan Minyak Bumi
Deterjen konvensional terbuat dari berbagai macam senyawa kimia seperti builder, Pewangi buatan, dan yang paling berbahaya adalah surfaktan. Surfaktan merupakan senyawa turunan minyak bumi yang berfungsi untuk menurunkan tegangan pada permukaan air atau membuat lebih permukaan menjadi lebih basah sehingga lebih mungkin untuk berinteraksi dengan minyak juga lemak. Kebanyakan deterjen konvensional menggunakan surfaktan yang berupa phosphat, alkyl benzene sulfonate, Diethanolamines , Alkyl phenoxy. Semua senyawa ini merupakan senyawa yang berasal dari sumber daya yang tidak dapat diperbarui (minyak bumi), beracun, dan berbahaya bagi lingkungan.

#2 Memicu Eutorfikasi dan Pencemaran Air
Senyawa phosphate merupakan salah satu penyebab pencemaran air terbesar. 42% dari penyakit manusia dan hewan disebabkan oleh senyawa ini. Menurut Prof Narinder K. Kauschik, Professor Emeritus untuk environmental biology di Canadian University of Guelph,masalah utama adalah senyawa phosphate yang menyebabkan eutrofikasi pada ekosistem air.(3)Eutrofikasi adalah suatu kondisi pesatnya pertumbuhan tanaman enceng gondok dan ganggang. Jika kondisi ini dibiarkan maka permukaan sungai atau rawa akan tertutup tanaman ini. Dampak negatif akan dirasakan oleh biota air dibawahnya karena eutrofikasi menghambat sirkulasi oksigen dan sinar matahari. Lalu tumbuhnya ganggang yang pesat dapat meningkatkan unsur hara di dalamnya. Lama kelamaan bukan tidak mungkin kondisi ini dapat menyebabkan biota di dalamnya mati atau bahkan mengalami kepunahan.

#3 Mengandung Bahan yang Sulit Terurai
Surfaktan yang bersal dari minyak bumi, akan sulit terurai di alam bebas. Senyawa seperti Alkyl Benzene Sulfonates (ABS) yang banyak digunakan pada deterjen anti noda. Sebagai alternatifnya, terdapat senyawa Alkyl Phenoxy, Polyethoxy Ethanol, dan Diethanolamines yang hanya sedikit lebih cepat untuk terurai dibandingkan dengan ABS.

#4 Penyebab Berbagai Penyakit
Berbagai senyawa buatan di deterjen dapat menyebabkan berbagai penyakit seperti iritasi kulit, mata, bahkan memicu kanker.
Laporan lengkap mengenai dampak deterjen terhadap lingkungan dan kesehatan bisa dilihat disini. 

#5 Kemasan Plastik tidak Ramah Lingkungan
Kebanyakan deterjen yang ada dipasaran saat ini, di kemas oleh kemasan botol plastik atau lebih buruknya adalah kemasan pouch daur ulang yang berbahan campuran antara aluminum foil dan plastik sehingga sangat sulit untuk di daur ulang. Hal ini menyebabkan permasalahan baru, selain deterjen yang berbahaya bagi lingkungan, kemasan deterjen pun tidak dapat terurai hingga 450 tahun.

Jadi, Yuk beralih ke deterjen ramah lingkungan, Kamu bisa buat resep DIY deterjenmu disini atau menggunakan buah lerak sebagai pengganti sabun / deterjen yang bisa kamu beli disini